Allah Subḥānahu wa Taʿālā memelihara para Rasul-Nya dengan cara-Nya yang tidak selalu tampak oleh akal manusia. Ini menunjukkan bahwa Allah menjaga risalah dan utusannya sehingga tegaknya ajaran Islam sampai akhir masa kenabian, tanpa kekurangan atau cacat dalam tujuan utama dakwahnya.
Keteladanan Rasulullah ﷺ adalah Sempurna
Rasulullah ﷺ telah menerima wahyu dari Allah dan menyampaikan seluruh ajaran yang harus disampaikan kepada umat manusia. Ajaran beliau adalah petunjuk yang sempurna dan tidak boleh disampaikan dengan perkataan atau anggapan bahwa Rasulullah ﷺ tidak sepenuhnya mencerminkan apa yang Allah perintahkan. Menyatakan bahwa ada hal yang tidak dicontohkan oleh beliau ﷺ bisa dipahami seolah-olah beliau tidak sempurna dalam penugasan risalah, padahal kesempurnaan akhlak, perilaku, dan dakwah beliau telah dijamin oleh Allah SWT melalui wahyu dan sunnahnya.
Kisah Perlindungan Allah terhadap Nabi ﷺ
Diriwayatkan tentang situasi ketika Amir ibn Thufail dan Ibad bin Qays berencana untuk menyerang Rasulullah ﷺ dengan pedang beracun. Saat percobaan itu hendak dilakukan, Rasulullah ﷺ tidak terlihat oleh Ibad bin Qays, meskipun niat jahatnya berulang kali dicoba. Kejadian ini memberi gambaran nyata bahwa Allah menjaga Nabi ﷺ dalam kehidupan beliau hingga tugas dakwah risalah selesai. Perlindungan ini menunjukkan bahwa Allah menjaga hamba-Nya yang diutus dengan wahyu dan misi besar kepada umat manusia.
Al-Hijr Ayat 9 dan Konsep Pemeliharaan
Allah SWT berfirman:
اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ
“Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami pasti menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)
Dalam ayat ini, Allah menggunakan kata نَحْنُ (nahnu / Kami) yang merupakan bentuk jamak yang mengandung makna kemuliaan dan kekuasaan Ilahi. Ini menunjukkan janji Allah SWT untuk menjaga Al-Qur’an dari perubahan, baik dalam teks maupun makna, serta melalui keberlangsungan pemeliharaan secara spiritual dan sosial. Sebagian ulama tafsir bahkan menjelaskan bahwa pemeliharaan wahyu Allah tidak hanya dalam bentuk buku teks, tetapi juga melalui generasi penghafal (huffaz), serta karya-karya ulama yang menjaga pemahaman ajaran Islam dari penyimpangan. Darul Hikmah+1
Peran Kita dalam Menjaga Ajaran Agama
Konsep “kami menjaga” bukan berarti Allah melakukan semua aspek pemeliharaan tanpa keterlibatan manusia. Allah SWT memilih dan menanamkan bibit-bibit terbaik untuk menjadi penerus agama ini, yaitu orang-orang yang akan memelihara, menyebarkan, dan menegakkan ajaran Islam sesuai dengan tauhid dan sunnah. Termasuk di dalamnya adalah peran kita sebagai umat dalam menjaga Al-Qur’an dan sunnah melalui pengamalan, dakwah, pendidikan, serta penegakan nilai-nilai Islam di lingkungan masing-masing.
Hadits tentang Mujaddid (Pembaharu Agama)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah akan mengutus kepada umat ini pada setiap permulaan seratus tahun seseorang yang akan memperbarui agama mereka.”
— HR. Abu Dawud
Hadits ini menjelaskan bahwa dalam setiap abad Islam, Allah SWT menjanjikan hadirnya seorang mujaddid (pembaharu) yang tugasnya adalah mengembalikan ajaran Islam kepada kemurnian dan kejernihan ajaran yang sebenar-benarnya sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah. At-Tajdid Muhammadiyah
Makna tajdid di sini bukan membawa ajaran baru, tetapi memperbaiki keadaan umat sesuai syariat Islam, membersihkan dari penyimpangan, serta merevitalisasi pemahaman yang benar agar agama tetap hidup, relevan, dan kuat dalam menghadapi tantangan zaman. Para ulama klasik menjelaskan bahwa istilah mujaddid ini bisa merujuk kepada satu individu atau sekelompok orang dalam satu abad, yang memiliki pengaruh besar dalam penguatan syariat Islam di masa mereka. detikcom
Kesimpulan
- Allah SWT menjaga para rasul dan wahyu-Nya dengan cara yang sempurna sehingga ajaran Islam tetap utuh sampai akhir masa kenabian.
- Al-Qur’an dijamin oleh Allah dari segala bentuk perubahan dan kekeliruan.
- Allah melibatkan umat-Nya dalam pemeliharaan ajaran melalui generasi Muslim yang menghidupkan, mempelajari, dan menyebarkan kandungan Islam.
- Hadits tentang mujaddid menunjukkan bahwa Allah mengutus pembaharu agama setiap seratus tahun untuk memperbaiki dan menguatkan ajaran Islam.
- Peran individu Muslim dalam ikut menegakkan agama ini menjadi bagian kecil namun penting dalam menjaga keberlangsungan syariat Islam di muka bumi.