Banyak orang mengira cahaya ilmu tertutup karena Allah tidak memberikannya. Padahal, Allah Mahamurah dan tidak pernah menahan hidayah-Nya. Yang sering menjadi penghalang justru hati manusia itu sendiri—hati yang keruh, penuh oleh urusan dunia, dan sibuk dengan selain-Nya. Hati semacam ini ibarat bejana yang telah penuh; tak ada ruang tersisa bagi cahaya makrifat untuk masuk. Selama hati belum dikosongkan, keagungan Allah hanya akan terdengar di telinga, tetapi tidak pernah benar-benar sampai ke dalam jiwa.
Jalan menuju kejernihan hati itu bernama dzikir. Namun dzikir bukan sekadar rangkaian lafaz yang diucapkan lisan. Dzikir sejati lahir dari ketakwaan. Takwa membuka pintu dzikir, dzikir menyingkap tabir hakikat, dan ketika hakikat tersingkap, seorang hamba menemukan kemenangan yang paling besar dalam hidupnya. Di sanalah hati menjadi hidup—hidup yang tidak berakhir meski jasad telah kembali ke tanah. Sebagaimana diingatkan Hasan al-Bashri, tanah tidak pernah memakan tempat iman; iman tetap tinggal dan berbuah, bahkan setelah kematian.
Namun tidak semua ilmu melahirkan cahaya. Ketika ilmu justru melahirkan persaingan, kedengkian, dan hilangnya kasih sayang, itu pertanda bahwa dunia telah lebih dicintai daripada akhirat. Pada titik inilah kerugian dimulai, meski diselimuti jubah keilmuan. Kebodohan paling halus adalah merasa diri paling mulia, sementara kecerdasan sejati justru tumbuh dari kesadaran bahwa diri ini penuh kekurangan dan perlu terus diperbaiki.
Hati yang kotor akan mudah berburuk sangka kepada Allah dan gemar mencari aib sesama. Sebaliknya, hati seorang mukmin bersih dan lapang, memandang makhluk dengan kasih dan prasangka baik. Karena itu, dzikir tidak akan berbekas jika hati belum dibangun dengan takwa dan dibersihkan dari sifat-sifat tercela. Dzikir tanpa syarat hanya menjadi bisikan diri—tak mampu mengusir setan, sebagaimana doa yang tak dikabulkan karena kehilangan adab dan ketentuannya.
Di sinilah perjuangan terbesar manusia berada: melawan nafsunya sendiri. Nafsu yang tidak dibatasi, bahkan dalam perkara yang mubah, perlahan akan menuntut lebih—hingga akhirnya menyeret kepada yang diharamkan. Maka menjaga hati, menata niat, dan mengekang nafsu bukanlah pilihan tambahan, melainkan kebutuhan utama bagi siapa pun yang ingin hatinya tetap hidup dan dekat dengan Allah.